Beberapa hari belakangan ini, saya selalu miris jikalau membaca berita tentang banjir di wilayah Jabodetabek, Indonesia. Kasihan sekali, banyak orang2 yang menderita karena datangnya air dalam volume yang cukup besar. Yang terparah adalah orang2 miskin yang tinggal di bantaran kali atau tepi sungai. Dapat dipastikan tempat tinggal mereka lah yang bakal terendam lebih dahulu.
Meskipun demikian, awalnya saya masih merasa cukup tenang meski hati sedikit was-was. Karena rumah orangtua saya dan suami berada di kawasan yang cukup tinggi dan selama ini tidak pernah terkena banjir. Sampai pada akhirnya masuk imel-imel dari teman2 saya yang mengatakan bahwa tempatnya yang selalu aman banjir sekarang dipenuhi dengan air setinggi dengkul. Hah... saya jelas kaget dan sangat khawatir, langsung saya menghubungi keluarga saya yang tinggal di Bekasi. Alhamdulillah tersambung. Meski dengan suara terputus-putus, keluarga saya mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja. Air hanya masuk sampai semata kaki. Dan besoknya sudah surut. Saya langsung menanyakan bagaimana keadaan buku2 saya karena saat pindah ke Jepun sini seluruh barang2 saya dititipkan di rumah orangtua. Dan barang yang paling berharga yang saya titipkan adalah buku2 saya dan suami yang jumlahnya ratusan. Dan ternyata buku2 itu tidak tersentuh oleh banjir. Alhamdulillah
Saya jadi teringat sebelum pindah sementara ke sini. Saya mengontrak rumah di daerah Karet, Margonda, Depok. Rumahnya mungil dan disekitarnya banyak pohon2 hijau yang tumbuh, membuat daerah itu menjadi asri dan sejuk. Tapi sayang keasrian dan kesejukan itu perlahan mulai hilang. Dimulai dengan pembangunan Gramedia yang membabat habis kebun pisang sampai dengan didirikannya hipermal yang menggantikan pepohonan itu dengan beton yang menjulang tinggi. Walhasil, saat hujan tiba, air yang membawa lumpur pekat datang menggenangi daerah tempat saya tinggal. Semua ibu2 menjerit ketakutan. Lantai, kasur, sofa, semuanya dihantam air coklat itu. Saya lumayan beruntung saat itu karena air hanya masuk sampai depan rumah saja, padahal saat itu semua barang2 seperti komputer, buku2, dan dokumen penting sudah saya pindahkan ke tempat yang tinggi. Walau demikian, tetap saya tidak bisa tersenyum lega karena tetangga2 terkena musibah. Bersama ibu2 yang lain, kita membersihkan rumah yang terkena banjir lumpur. Mungkin kalau banjir air saja lebih mudah dibersihkan, tapi kalau dengan lumpur pekat.... susaaah sekali, harus dengan tenaga ekstra. Walau saya mendengar ada penggantian terhadap kerugian warga oleh pengembang tapi tetap saja saya berpikir banjir seperti ini tidak akan datang sekali ini saja.
Ternyata benar, kali ini banjir benar2 memberi peringatan kepada kita semua. Ketika kawasan resapan air digantikan dengan gedung2 beton, drainase yang buruk, plus kesadaran masyarakat yang kurang menghargai lingkungan, tiada ampun ..... dampak buruknya pun berimbas kepada kita.
Entahlah harus menyalahkan siapa. Pemerintah yang tidak becus mengurusi pembangunan banjir kanal kah? Atau pemerintah kota yang seenaknya memberikan izin pembangunan mal-mal demi segudang uang tanpa memperhatikan dampak lingkungannya kah? Atau menyalahkan para konglomerat dan pengembang itu kah? atau menyalahkan diri kita sendiri yang kurang menghargai lingkungan?
Namun demikian, dibalik musibah banjir ini, mungkin masih terdapat banyak harapan terhadap tanah air tercinta ini. Seperti keyakinan saya, suatu saat, mungkin, saat para kaum muda cendikia Indonesia yang tersebar diseluruh dunia bersatu, bergerak, mengganti sistem yang bobrok, membangun bangsa ini, pasti Indonesia akan maju. Tidak ada perasaan iri lagi terhadap keadaan negara lain seperti saat ini yang terjadi pada diri saya. Dan pastinya tidak akan ada lagi yang berteriak `Tolooooong...banjiiiirrr` saat hujan deras terus-menerus mengguyur Indonesia. Amin