evida's posts with tag: banjir

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag banjir

Pagi ini saya membaca berita online di internet, masih berita yang terkait dengan bencana banjir di Jakarta. Isinya tentang adanya seruan yang beredar lewat sms untuk menjarah barang2 di toko dan obat2an di apotik yang ada di wilayah banjir. Seruan ini muncul karena pemerintah dinilai begitu lambat memberikan bantuan kepada korban banjir yang sudah mulai frustasi. Berhari2 tinggal di tempat pengungsian yang kurang layak tanpa makanan yang cukup. Harta benda rusak dan uang pun tak ada. Ditambah dengan ancaman penyakit pasca banjir. Siapa yang tidak stress dengan kondisi ini. Membayangkannya saja sudah sedih apalagi yang mengalaminya.

Soal isu menjarah pasca banjir, saya jadi teringat dengan musibah badai katrina yang pernah menyerang beberapa wilayah di Amerika Serikat. Korbannya luar biasa banyak dan kebanyakan orang2 kulit hitam. Saat itu pemerintah AS pun lambat memberikan bantuan, entah apa sebabnya padahal Amerika gitu loh! Walhasil, penjarahan terhadap toko2 kelontong juga terjadi. Korban mulai frustasi dengan bantuan yang tak kunjung datang padahal mereka butuh makan, air bersih, dan obat2an untuk terus hidup. Yang saya takjub adalah ketika banyak penduduk AS di wilayah lain yang tidak terkena badai mengutuk aksi penjarahan itu, justru seorang penyanyi tenar, Celine Dion memakluminya dan mengatakan itu adalah hal wajar dan bukan suatu tindakan kriminal. Jika dia yang menjadi korban pasti akan melakukan hal yang sama. Alasannya, ya apalagi, untuk bertahan hidup.

Di beberapa negara Amerika latin mungkin juga pernah terjadi aksi penjarahan. Saya masih ingat ketika krisis moneter di Argentina beberapa tahun lalu. Ketika pemerintah menurunkan nilai mata uang dan barang kebutuhan pokok langka, jelas membuat masyarakat frustasi. Uang yang dimiliki seolah tidak bernilai sedangkan harga2 justru naik. Siapa yang tidak marah dengan hal ini? Situasi kacau dan ini yang kemudian memicu aksi penjarahan.

Di Indonesia sendiri penjarahan besar2an pernah terjadi saat Mei 1998. Saat itu saya dan teman2 sedang berada di UI Salemba untuk mendengarkan orasi mahasiswa terkait dengan upaya melengserkan Soeharto. Ternyata saya kaget bukan main, rakyat datang bergerombol sambil menggoyang2kan pagar besi UI, minta mahasiswa bergabung dengan mereka. Takut sekali saat itu. Bukannya apa2 saat itu saya melihat rakyat membakar sebuah truk mlik TNI dan membakar supermarket Hero di Megaria seusai menjarah isinya. Orang juga berbondong2 menjarah Menteng Prada yang lokasinya juga berdekatan. Saya pikir penjarahan hanya disitu saja, ternyata tidak. Sepanjang perjalanan pulang saya menyaksikan banyak aksi penjarahan yang dilakukan dengan penuh nafsu. Bahkan di sebuah mall kecil dekat rumah saya, ada dua orang anak kecil yang meninggal di dalam mall tersebut akibat aksi penjarahan. Mereka tidak sadar ketika sibuk menjarah, mall itu mulai dibakar oleh oknum. Tak ayal, mereka mati sesak karena asap tebal.

Saya tidak tahu sebenarnya saat itu, apakah aksi penjarahan itu dilakukan karena rakyat frustasi atau memang ada yang mengkoordinir mengingat aksi ini dilakukan serempak hampir di banyak wilayah di Indonesia. Yang bikin aneh lagi, ternyata ada teman saya, anak orang kaya, juga ikut menjarah barang2 di sebuah mall dan dapat sepasang sepatu bermerek yang harganya ratusan ribu. Jelas yang ini bukan karena frustasi, tapi ikut2an yang menurut saya masuk dalam kategori tindakan kriminal. Lucunya, saya cuma tersenyum kecut ketika teman saya itu menceritakan aksinya dengan antusias kepada saya :-(

Kembali soal isu penjarahan pasca banjir ini. Benar saya bingung sekali menanggapinya. Saya maklum dan sedih dengan kondisi korban banjir karena mereka bagaimana pun juga harus bertahan hidup apalagi yang memiliki anak kecil. Saat pemerintah tidak dapat diandalkan bantuannya, siapa dan apa lagi yang dapat membantu mereka? Penjarahan memang merupakan tindak kriminal karena itu merugikan dan merampas hak milik orang lain. Tapi dalam situasi seperti ini??? Apakah dibolehkan merampas hak milik untuk memberikan hak hidup??

Mudah2an pemerintah cepat memberikan bantuannya dan banjir lekas surut sehingga isu akan aksi penjarahan tidak terjadi. Amin

Gambar diambil di sini


Blog EntryTolooooong........BanjiiiiiiirrrrrrFeb 5, '07 7:09 AM
for everyone

Beberapa hari belakangan ini, saya selalu miris jikalau membaca berita tentang banjir di wilayah Jabodetabek, Indonesia. Kasihan sekali, banyak orang2 yang menderita karena datangnya air dalam volume yang cukup besar. Yang terparah adalah orang2 miskin yang tinggal di bantaran kali atau tepi sungai. Dapat dipastikan tempat tinggal mereka lah yang bakal terendam lebih dahulu.

Meskipun demikian, awalnya saya masih merasa cukup tenang meski hati sedikit was-was. Karena rumah orangtua saya dan suami berada di kawasan yang cukup tinggi dan selama ini tidak pernah terkena banjir. Sampai pada akhirnya masuk imel-imel dari teman2 saya yang mengatakan bahwa tempatnya yang selalu aman banjir sekarang dipenuhi dengan air setinggi dengkul. Hah... saya jelas kaget dan sangat khawatir, langsung saya menghubungi keluarga saya yang tinggal di Bekasi. Alhamdulillah tersambung. Meski dengan suara terputus-putus, keluarga saya mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja. Air hanya masuk sampai semata kaki. Dan besoknya sudah surut. Saya langsung menanyakan bagaimana keadaan buku2 saya karena saat pindah ke Jepun sini seluruh barang2 saya dititipkan di rumah orangtua. Dan barang yang paling berharga yang saya titipkan adalah buku2 saya dan suami yang jumlahnya ratusan. Dan ternyata buku2 itu tidak tersentuh oleh banjir. Alhamdulillah

Saya jadi teringat sebelum pindah sementara ke sini. Saya mengontrak rumah di daerah Karet, Margonda, Depok. Rumahnya mungil dan disekitarnya banyak pohon2 hijau yang tumbuh, membuat daerah itu menjadi asri dan sejuk. Tapi sayang keasrian dan kesejukan itu perlahan mulai hilang. Dimulai dengan pembangunan Gramedia yang membabat habis kebun pisang sampai dengan didirikannya hipermal yang menggantikan pepohonan itu dengan beton yang menjulang tinggi.  Walhasil, saat hujan tiba, air yang membawa lumpur pekat datang menggenangi daerah tempat saya tinggal. Semua ibu2 menjerit ketakutan. Lantai, kasur, sofa, semuanya dihantam air coklat itu. Saya lumayan beruntung saat itu karena air hanya masuk sampai depan rumah saja, padahal saat itu semua barang2 seperti komputer, buku2, dan dokumen penting sudah saya pindahkan ke tempat yang tinggi. Walau demikian, tetap saya tidak bisa tersenyum lega karena tetangga2 terkena musibah. Bersama ibu2 yang lain, kita membersihkan rumah yang terkena banjir lumpur. Mungkin kalau banjir air saja lebih mudah dibersihkan, tapi kalau dengan lumpur pekat.... susaaah sekali, harus dengan tenaga ekstra. Walau saya mendengar ada penggantian terhadap kerugian warga oleh pengembang tapi tetap saja saya berpikir banjir seperti ini tidak akan datang sekali ini saja.

Ternyata benar, kali ini banjir benar2 memberi peringatan kepada kita semua. Ketika kawasan resapan air digantikan dengan gedung2 beton, drainase yang buruk, plus kesadaran masyarakat yang kurang menghargai lingkungan, tiada ampun ..... dampak buruknya pun berimbas kepada kita.

Entahlah harus menyalahkan siapa. Pemerintah yang tidak becus mengurusi pembangunan banjir kanal kah? Atau pemerintah kota yang seenaknya memberikan izin pembangunan mal-mal demi segudang uang tanpa memperhatikan dampak lingkungannya kah? Atau menyalahkan para konglomerat dan pengembang itu kah? atau menyalahkan diri kita sendiri yang kurang menghargai lingkungan?

Namun demikian, dibalik musibah banjir ini, mungkin masih terdapat banyak harapan terhadap tanah air tercinta ini. Seperti keyakinan saya, suatu saat, mungkin, saat para kaum muda cendikia Indonesia yang tersebar diseluruh dunia bersatu, bergerak, mengganti sistem yang bobrok, membangun bangsa ini, pasti Indonesia akan maju. Tidak ada perasaan iri lagi terhadap keadaan negara lain seperti saat ini yang terjadi pada diri saya. Dan pastinya tidak akan ada lagi yang berteriak `Tolooooong...banjiiiirrr` saat hujan deras terus-menerus mengguyur Indonesia. Amin

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.